Contoh Penggunaan Teknologi Kontainer dalam Layanan Cloud Computing

Kontainer masih menjadi salah satu tren dalam Cloud Computing (komputasi awan). Lembaga riset Forrester menyebutkan bahwa pada 2022 adopsi kontainer akan mencapai 50%. Sementara Gartner meramalkan 75% perusahaan global akan menggunakan kontainer pada 2022, jumlah itu meningkat dibandingkan 30% pada 2020.



Tren global ini tentunya tidak mengherankan, mengingat kontainer memiliki berbagai kelebihan dibandingkan alternatif seperti mesin virtual. Ukuran kontainer hanya sekitar puluhan megabyte, lebih efisien dalam konsumsi sumber daya, dan dapat diluncurkan dengan lebih cepat.



Namun, apakah tren penggunaan kontainer tersebut sudah sesuai dan dapat diterapkan pada perusahaan Anda? Tentunya kebutuhan bisnis setiap perusahaan berbeda-beda dan tidak harus selalu sejalan dengan tren global. Untuk mengetahui apakah teknologi kontainer cocok untuk perusahaan Anda, kita bisa melihat contoh-contoh kasus penggunaan yang sudah ada.



Baca Juga: Tren Cloud Computing di 2022



Arsitektur Microservice



Pembahasan teknologi kontainer sering dikaitkan dengan arsitektur microservice. Pada arsitektur ini, suatu aplikasi dibagi-bagi menjadi beberapa komponen (service) yang terpisah-pisah, disebut sebagai microservice. Setiap komponen memiliki fungsi logis yang berbeda untuk aplikasi secara keseluruhan.



Beberapa kelebihan arsitektur microservice adalah kemudahan dalam menambahkan fitur baru dalam aplikasi, keandalan yang lebih baik, dan lebih scalable. Karena kontainer berukuran kecil dan cepat, teknologi ini cocok digunakan dengan microservice. Pengembang aplikasi dengan arsitektur microservice yang menggunakan kontainer biasanya akan menempatkan tiap layanan di dalam kontainer sendiri.



Aplikasi Monolitik



Dalam beberapa kasus, pengembang aplikasi mungkin dapat diimplementasikan dengan cara membangun aplikasinya secara monolitik. Dalam kasus lain, perusahaan mungkin memiliki aplikasi lama (legacy) dan ingin migrasi ke teknologi kontainer tanpa perubahan. Dalam hal ini, kontainer bisa digunakan dengan aplikasi monolitik.



Tidak ada keharusan untuk membatasi kontainer dengan arsitektur microservice. Kontainer bisa menjadi wadah untuk aplikasi tunggal yang monolitik. Pada kasus ini, komponen aplikasi tersebut sudah ditampung dalam kontainer tersebut dan tidak disebar ke beberapa kontainer lain.



Meskipun dari luar aplikasi tersebut terlihat monolitik, secara internal desainnya bisa saja terbagi atas berbagai komponen atau layer terpisah. Namun secara eksternal, semua komponen tersebut dikemas sebagai kontainer tunggal.



Aplikasi monolitik masih dapat memperoleh manfaat dari teknologi kontainer. Penambahan instansi kontainer dapat dilakukan lebih cepat dibandingkan penambahan mesin virtual tambahan. Update kontainer juga bisa dilakukan lebih cepat.



Pengembangan dan Pengujian Aplikasi



Pengembang bisa memanfaatkan kontainer untuk menciptakan dan menguji aplikasi baru. Pengembang aplikasi dapat memanfaatkan kontainer dengan konfigurasi dan perangkat lunak pustaka sendiri tanpa mengganggu konfigurasi komputer lokal.



Selanjutnya, aplikasi tersebut juga bisa diuji dan setelah melalui tahap pengujian langsung diluncurkan ke tahap produksi. Kemampuan untuk pengembangan, pengujian, dan peluncuran dalam satu lingkungan ini menjadikan kontainer menjadi salah satu teknologi dasar untuk konsep DevOps.



Baca Juga: Apa Itu Orkestrasi Kontainer dalam Layanan Cloud Computing?



Dalam konsep DevOps ini, aspek pengembangan (development atau dev) digabungkan menjadi satu dengan aspek operasional (ops). Karena kemudahan dalam penambahan fitur baru di aplikasi, penerapan konsep DevOps memungkinkan suatu perusahaan untuk lebih tanggap terhadap tuntutan pelanggan.



Internet of Things



Internet of Things (IoT) adalah sebutan untuk benda-benda yang memiliki sensor, chip, dan perangkat komputasi lainnya, yang memiliki perangkat lunak terhubung dan bertukar data dengan perangkat dan sistem lainnya. Koneksi tersebut bisa melalui sambungan privat atau Internet. 



Beberapa perangkat IoT memiliki kemampuan komputasi terbatas, namun ada pula yang sudah dilengkapi dengan prosesor dan perangkat penyimpanan yang tidak kalah dengan komputer pribadi beberapa tahun lalu. Perangkat IoT seperti ini mampu menjalankan aplikasi terkontainerisasi. Seperti juga pada aplikasi Cloud, kontainer di IoT memungkinkan pembaharuan dan penambahan fitur dengan cepat.



Hybrid Cloud dan Multicloud



Kontainerisasi aplikasi juga ideal bila perusahaan Anda menggunakan model Hybrid Cloud (komputasi awan hibrida) atau Multicloud. Pada Hybrid Cloud, perusahaan menggabungkan Private Cloud (komputasi awan pribadi) yang ditaruh di lingkungan sendiri (on-premise) dengan Public Cloud (layanan komputasi awan publik). Sementara itu, pada Multicloud, perusahaan menggunakan layanan Cloud lebih dari satu vendor.



Kontainer pada dasarnya portabel. Artinya, suatu kontainer dapat dipindahkan dengan mudah dari suatu lingkungan Cloud ke lingkungan lain. Misalnya, kontainer yang tadinya dijalankan di lingkungan Private untuk pengembangan aplikasi bisa dipindahkan ke Public Cloud. Kontainer juga bisa dipindahkan dari lingkungan satu vendor ke vendor lain bila diperlukan.



Baca Juga: 5 Strategi Migrasi ke Cloud Computing



Organisasi yang sudah menggunakan kontainer secara intensif, tidak jarang akan perlu mengelola puluhan, bahkan ribuan kontainer. Dalam hal ini, pengelolaan tidak bisa dilakukan secara manual, namun memerlukan layanan yang disebut sebagai orkestrasi kontainer.



Lintasarta menawarkan solusi Deka Harbor untuk memudahkan pengembang untuk mengelola aplikasi yang terkontainerisasi. Layanan Container as a Service ini memudahkan pengguna untuk memanfaatkan kontainer untuk berbagai jenis kasus penggunaan. Untuk mengetahui lebih lanjut, silakan hubungi kami.