free page hit counter

IT Services, Dorong Pertumbuhan Industri di 2015

source : behance.net

Bisnis layanan teknologi informasi atau IT services memang tak ada matinya. Kesadaran kalangan korporasi untuk mengimplementasikan teknologi informasi dalam aktivitas bisnis turut menopang tren tersebut.

Data yang dirilis oleh International Data Corporation (IDC) Indonesia menyebutkan belanja TI di dalam negeri akan mencapai US$16,5 miliar pada akhir 2014. Angka ini naik 12,24% dari US$14,7 miliar pada tahun sebelumnya.Serta pada tahun 2015 diproyeksikan akan terus mengalami pertumbuhan.

Porsi paling besar memang masih diperuntukkan bagi belanja perangkat keras (hardware) yang mencapai 87% atau sekitar US$14,3 miliar. Sementara itu, khusus untuk segmen layanan (IT services) diperkirakan nilainya mencapai US$1,4 miliar atau sekitar 8,6%. Baru kemudian US$726 juta sisanya dialokasikan untuk belanja peranti lunak (software).

Peningkatan anggaran belanja TI tersebut tidak akan terjadi tanpa adanya edukasi yang masif mengenai IT services itu sendiri. Tidak seperti beberapa tahun lalu, istilah cloud computing yang jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi komputasi awan misalnya, kian akrab di telinga masyarakat. Berbagai vendor baik dalam dan luar negeri aktif memberikan edukasi mengenai layanan tersebut.

Gidion Suranta Barus, IT Services Development General Manager PT Aplikanusa Lintasarta, mengatakan, komputasi awan dan managed services merupakan salah satu tren teknologi informasi yang menunjukkan perkembangan signifikan. Hal ini terjadi karena kalangan korporasi mulai melihat penyimpanan data melalui cloud computing bisa jauh lebih murah.

Menariknya, kalangan korporasi kini mulai banyak yang memilih untuk menyerahkan pengelolaan IT internal kepada pihak ketiga seperti Lintasarta. Inilah yang disebut dengan IT outsourcing. Gidion menuturkan tahun ini tren IT outsourcing masih tinggi dan akan terus meningkat pada masa mendatang. “Bagi perusahaan besar, IT services ini lebih menguntungkan dari sisi finansial,” katanya belum lama ini.

Bagi perusahaan besar, menyerahkan pengelolaan IT mereka kepada pihak ketiga akan menghindarkan kewajiban dari investasi belanja modal (capital expenditure(capex)) dalam jumlah besar. Pihak ketiga seperti Lintasarta biasanya akan menyediakan layanan paripurna mulai dari penyediaan produk, instalasi, pengelolaan, pengecekan, sampai kebutuhan sumber daya manusia. Dengan demikian, korporasi bisa lebih fokus pada bisnis utama mereka.

“Perusahaan pun terlepas dari beban capex. Komponen biayanya masuk ke opex karena mereka hanya perlu bayar sewa per tahun,” katanya.

Gidion memang tidak salah saat mengatakan tren tersebut akan meningkat. IDC Indonesia memperkirakan, sebanyak 40% dari belanja TI di bidang layanan pada 2014 yang mencapai US$1,4 miliar memang dinikmati oleh perusahaan outsource seperti Lintasarta. Artinya, pasar bisnis tersebut di Tanah Air mencapai US$5,6 miliar.

Sektor bisnis finansial, resources, pemerintahan, manufaktur, dan telekomunikasi dinilai menjadi sektor paling potensial untuk digarap. Gidion menilai pada tahun depan, permintaan layanan TI dari korporasi besar akan semakin masif.

Target Lintasarta

Sebagai salah satu pemain besar di bidang IT services, Lintasarta yang merupakan anak usaha dari PT Indosat Tbk. ini mengaku akan sangat agresif memasarkan bisnis IT servicesdengan mematok target pertumbuhan di atas industri yang mencapai 21%. Perusahaan akan fokus pada dua sektor yaitu komputasi awan dan managed services atau IT outsourcing.

“Untuk keduanya kami optimistis tahun depan bisa tumbuh sampai dua kali lipat,” tambah Gidion.

Di sektor komputasi awan, Lintasarta memang didukung oleh fasilitas data center terkemuka yang tersebar di berbagai tempat seperti Jatiluhur, Jakarta, dan Bandung. Sektor finansial, resources, dan manufaktur masih akan menjadi tumpuan target pelanggan Lintasarta. Sektor lain yang dinilai cukup potensial adalah pemerintahan. Sayangnya, meskipun memiliki anggaran belanja TI yang besar, sektor pemerintahan dinilai lebih banyak menggunakannya untuk belanja hardware ketimbang solusi.

Sementara itu, untuk sektor resources, seperti pertambangan dan perkebunan, jasa VSAT diprediksi akan meningkat pesat. Apalagi di Indonesia penyedia jasa layanan tersebut tidak banyak. Di sini, Lintasarta merupakan salah satu pemain besar.

Menjadi anak usaha operator sekelas Indosat membawa keuntungan tersendiri bagi Lintasarta. Dalam memberikan layanannya, perusahaan bisa melakukan variasi dengan mem-bundling jasa komputasi awan dengan jaringan internet. Untuk perusahaan besar yang sensitif dengan isu keamanan, Lintasarta juga menyediakan jaringan private.

Kendati fokus pada kalangan korporasi besar, perusahaan juga tengah membidik kalangan usaha kecil dan menengah (UKM) dengan menyediakan aplikasi yang terjangkau. Persoalan yang selama ini dihadapi oleh UKM adalah anggaran TI yang masih minim. Untuk itulah Lintasarta akan berkolaborasi dengan developer lokal untuk memberikan solusi aplikasi bagi kalangan UKM.

Menggarap bisnis IT services bukan tanpa tantangan. Gidion menuturkan, Lintasarta harus memberikan solusi yang berbeda-beda bagi setiap perusahaan. Pasalnya, kebutuhan teknologi informasi di setiap korporasi besar juga berbeda-beda. “Intinya tidak ada solusi yang sama untuk setiap pelanggan,” katanya.

Dengan demikian, Lintasarta akan selalu menyesuaikan solusi yang ditawarkan kepada pelanggan. Selain itu mempertahankan service level juga tidak punya mudah. Namun, hal tersebut dinilai sebagai tantangan untuk terus memberikan kepuasan kepada pelanggan.

Saat ini, Lintasarta sudah melayani sekitar 1.700 pelanggan korporasi. Solusinya bermacam-macam mulai dari komputasi awan dengan layanan end-to-end, hingga VSAT yang sangat dibutuhkan oleh perusahaan yang beroperasi di daerah terpencil.

Dengan tren IT services yang terus berkembang, permintaan pelanggan Lintasarta juga kian membludak. Isu keamanan di bidang komputasi awan kini juga sudah bisa diredam. Dengan berbagai produk yang ditawarkan, kalangan korporasi akan dimudahkan dengan tidak mengurus sendiri kebutuhan teknologi informasinya. Jika bisa lebih simpel, kenapa tidak?