free page hit counter

Membangun Data Center Industri Resources

image source : gsdisposals.com

Setiap perusahaan memerlukan sebuah data center. Hanya saja, untuk industri resources, ada karakteristik khas yang perlu dipahami agar data center yang dibangun handal.

Secara sederhana, data center adalah fasilitas penyimpanan perangkat yang terdiri dari infrastrukur yang di dalamnya terdapat power, cooling system dan network atau jaringan.

Menurut General Manager Pengembangan Bisnis Jasa Lintasarta, Gidion Suranta Barus, sebenarnya, tidak ada pembagian data center berdasarkan bidang industri. Hanya saja, tiap-tiap industri, jelasnya, memiliki karakter tertentu yang menuntut requirement (persyaratan) tertentu terkait data center yang tepat bagi mereka.  “Data center tidak ada pembagian menurut bidang industri. Semua industri memerlukan data center jika mereka menginginkan efisien, efektif dan kompetitif,” paparnya.

Data center, tutur Gidion, lebih ditentukan oleh derajat kompleksitas spesifikasi dan keamanannya. Maka ada tingkatan yang umum disebut sebagai TIER di mana TIER I yang sederhana hingga TIER IV yang paling kompleks dan paling aman. Untuk Indonesia, umumnya data center perusahaan paling tinggi berada di level TIER III. Ini umumnya untuk perusahaan yang memiliki critical data atau aplikasi yang jika data itu hilang membawa risiko besar, baik dari segi finansial atau segi lainnya. “Umumnya industri perbankan atau institusi keuangan,” jelasnya.

Data center umumnya berada di kantor pusat jika perusahaan membangun sendiri data centernya. Atau jika data center itu diserahkan ke pihak ketiga, lokasinya pun berada tidak jauh dari kantor pusat. Ini agar lebih mudah dalam melakukan perawatan atau perbaikan jika terjadi gangguan.

Situasi agak berbeda berkaitan dengan industri resources. Gidion menyebut, perusahaan yang bergerak di bidang ini banyak yang membangun server-server kecil di tempat pertambangan mereka. Server ini untuk menampung data pertambangan di site mereka yang umumnya berada di remote area.  Kemudian yang jadi tantangan adalah bagaimana mengirimkan data itu ke pusat, atau bagaimana mem-back up data tersebut. Hal ini memerlukan sinkronikasi atau replikasi data, pengiriman data dari site yang berada di remote area ke kantor pusat atau ke lokasi di mana data center itu berada. “Kami melihat tantangan itu adalah peluang untuk memberikan sebuah layanan data center yang tepat untuk industri resources,” ungkapnya.

Automatisasi

Tren untuk menyerahkan urusan data center ataupun IT dalam skala lebih luas ke provider semakin tinggi belakangan ini. Apalagi bagi perusahaan resources yang umumnya milik asing atau joint venture. Belum lagi, dalam UU ITE No 11/2008 yang mensyaratkan perusahaan asing harus membangun data centernya di Indonesia. Ini membuat peluang untuk memberikan layanan data center bagi industri resources semakin besar.

Untuk data center bagi industri resources, Gidion menyebut perlu adanya automatisasi. Artinya, bagaimana membuat data pertambangan yang ada di site langsung masuk ke sistem yang terkoneksi dengan data center, sekaligus melakukan sinkronisasi dan replikasi alias mem-back up data tersebut. Data-data langsung dari site punya nilai critical bagi perusahaan resources.

Untuk layanan ini, Lintasarta memiliki perangkat yang disebut sebagai WAN Optimizer. Dengan perangkat itu, data dari pertambangan langsung masuk ke dalam server yang ada di dalam perangkat itu untuk kemudian segera dikirimkan ke data center di kantor pusat. Jika kemudian, katakanlah, jaringan mati atau ada gangguan, maka data pertambangan itu disimpan terlebih dahulu di server yang ada di dalam perangkat WAN Optimizer. Saat jaringan kemudian hidup, maka data itu langsung dikirim ke data center pusat.

Pengiriman data juga bisa diatur, apakah semua data pertambangan, atau hanya data yang mengalami perubahan saja yang dikirimkan. Ini tentu berkatan dengan kapasitas jaringan.

Dengan cara ini, tutur Gidion, perusahaan resources tidak perlu membangun lagi server sendiri. Ini juga termasuk dengan tidak perlu lagi menambah SDM untuk mengawasi server karena bisa dimanage dari kantor pusat.

Gidion memahami bahwa dengan cara ini, urusan availability dan keamanan perlu perhatian. Apalagi, awareness dan trust terkait penyerahan data center atau IT ke pihak ke tiga masih perlu ditingkatkan. Terkait availability, jika mengalami gangguan, Gidion menyebut karena bisa dipantau dari pusat, maka jika terjadi gangguan, Lintasarta akan menurunkan tim terdekat yang ada di lokasi untuk melakukan perbaikan. Lintasarta memiliki perwakilan di 40 kota di seluruh Indonesia. Terkait keamanan, Lintarta telah mendapatkan ISO 27.001 terkait  Information Security Management.

Hanya saja, tegas Gidion, keuntungan terbesar perusahaan resources untuk menyerahkan data center mereka ke Lintasarta adalah sebuah manage data service. Ini akan membuat mereka fokus ke core business dengan support penuh terkait data center oleh Lintasarta. “Kami akan selalu memenuhi Service Level Agreement (SLA) yang telah dibuat,” ujarnya.