Perbedaan Proof of Concept, Demo, dan Free Trial

Mengadaptasi software atau teknologi baru untuk keperluan bisnis merupakan langkah yang cukup berisiko. Tidak ada yang bisa menjamin apakah teknologi tersebut akan berjalan sesuai ekspektasi. Karenanya, biasanya pihak penyedia teknologi menawarkan Anda untuk melakukan proof of concept, demo, atau free trial untuk memastikan bahwa teknologi mereka benar-benar berjalan semestinya. Apa perbedaan di antara ketiganya?

Demo

Merupakan singkatan dari “demonstration”, demo dapat dikatakan sebagai sebuah prosedur yang memberikan gambaran singkat tentang kemampuan dan berbagai fitur suatu produk. Untuk melakukan hal tersebut, idealnya demo dilengkapi dengan presentasi produk dalam menjalankan beberapa hal pekerjaan tertentu. Tujuannya untuk memberikan pemahaman praktis kepada calon pengguna tentang bagaimana produk tersebut bekerja.

Umumnya, demo juga menjadi momen bagi calon pengguna untuk menyaksikan suatu produk bekerja pertama kalinya dan berlangsung selama sekitar 1-2 jam. Melalui demo, pihak penyedia teknologi akan menonjolkan bagian-bagian produk yang sekiranya paling dibutuhkan oleh bisnis Anda. Tak harus bertemu secara langsung, sebuah demo juga dapat dilakukan secara remote menggunakan perangkat webinar.

Free Trial

Pada prosedur demo, komunikasi cenderung bersifat satu arah karena Anda hanya mendapat informasi mendalam tentang software atau teknologi yang hendak digunakan. Nah, melalui trial, Anda memiliki kesempatan untuk mencoba produk tersebut secara lansgung di lingkungan bisnis Anda. Tujuannya adalah agar calon pengguna memiliki pengalaman interaksi langsung dengan produk, sekaligus membuktikan sendiri fitur-fitur produk yang sebelumnya telah dijelaskan pada tahap demo.

Agar calon pengguna bisa merasakan pengalaman menyeluruh dan maksimal dari suatu produk, umumnya trial berlangsung cukup lama, yakni sekitar 30-60 hari. Biasanya, untuk produk-produk perangkat keras (hardware), ada sebuah kesepakatan agar calon pengguna melakukan pembelian produk tersebut di akhir masa trial.

Proof of Concept

Sering disebut dengan POC, proof of concept bisa juga dikatakan sebagai versi lebih formal dari free trial. Mirip seperti free trial, calon pengguna juga diperbolehkan mencoba menggunakan produk tertentu selama periode waktu yang telah disepakati. Bedanya, proof of concept melibatkan impelementasi yang lebih tertarget dan terawasi.

Tujuan dari proof of concept adalah memberikan pemahaman level tinggi kepada calon pengguna tentang bagaimana sebuah produk bisa digunakan untuk keperluan tertentu. Selain itu, melalui proof of concept, pihak penyedia produk juga memiliki kesempatan untuk membantu menyesuaikan kemampuan produk dengan kebutuhan calon pengguna secara lebih mendetail.

Nah, karena sifatnya yang lebih formal apabila dibandingkan dengan free trial, idealnya proof of concept mengharuskan pihak penyedia produk dan calon pengguna untuk menyetujui kesepakatan resmi tertentu. Misalnya, penyedia produk harus menyediakan fasilitas technical support untuk membantu Anda mengadaptasi produk setelah melakukan proof of concept. Tergantung dari kesepakatan yang disetujui, durasi proof of concept cenderung lebih fleksibel apabila dibandingkan dengan demo dan free trial.

 

Kini, Anda sudah mengerti perbedaan antara demo, free trial, dan proof of concept. Apabila demo memberikan penjelasan awal tentang suatu produk kepada calon pengguna, maka free trial memungkinkan calon pengguna untuk mencoba sendiri kemampuan produk yang dijelaskan saat demo. Sedangkan, proof of concept mirip sperti trial, tetapi pelaksanaannya lebih tertarget untuk menonjolkan fitur-fitur tertentu.

Lalu, apa yang harus dilakukan setelah proof of concept? Jika Anda sudah yakin untuk menggunakan produk tertentu setelah melakukan proof of concept, biasanya tahap selanjutnya adalah pilot. Kali ini, produk tersebut akan benar-benar dipasang pada perusahaan Anda, tetapi sifatnya masih terbatas.

 

Photo Credit: Wikimedia Commons