Solusi Bisnis Terintegrasi untuk Pasar Perbankan Ritel

image source http://www.demandsolutions.com

JAKARTA. Tantangan perekonomian setiap negara memiliki karakteristik yang tidak jauh berbeda, salah satunya dalam menghadapi tidak menentunya kondisi perekonomian global. Pemerintah harus bisa mengeluarkan kebijakan moneter yang mampu mengamankan kondisi perekonomian nasional termasuk para pelaku pasar keuangan.

Kebijakan moneter yang kurang tepat akan memiliki konsekuensi terhadap penurunan pertumbuhan ekonomi sebuah negara. Contohnya, Argentina dimana pada tahun 1914 menjadi sebuah negara dengan perekonomian maju dengan pendapatan perkapita di atas negara-negara eropa seperti Jerman, Prancis, dan Italia.

Faktanya seiring berjalannya waktu, kondisi perekonomian Argentina terus mengalami penurunan ditengah kondisi perekonomian global yang terus berkembang. Penyebab penurunan ekonomi Argentina diantaranya disebabkan oleh tidak berkembangnya sektor industri, kebijakan perdagangan yang cenderung tertutup, dan lemahnya visi kebijakan ekonomi yang jauh kedepan.

Indonesia sebagai sebuah negara berkembang dengan pertumbuhan ekonomi di atas 5% dalam beberapa tahun belakangan ini tentunya memiliki tantangan agar terus mencatat pertumbuhan ditengah ketidakpastian perekonomian global. Kebijakan moneter nasional harus bisa merangsang khususnya para pelaku pasar keuangan agar lebih bergairah untuk mencatat pertumbuhan.

Berkaca pada tahun 2013 lalu, kebijakan moneter nasional diwarnai dengan mengetatnya tingkat suku bunga acuan yang ditetapkan Bank Indonesia (BI) atau lebih dikenal dengan istilah BI rate.  BI rate dinaikan sebesar 175 basis poin (bps) sepanjang 2013 atau menjadi sebesar 7,5% per November 2013.

Kebijakan moneter lewat pengetatan BI Rate ini turut berdampak terhadap kondisi pasar perbankan ritel. Hal ini yang dibahas secara mendalam dalam acara “Seminar on Banking : The Future of Retail Banking”, pada Rabu (23/4) lalu di Hotel Mulia, Jakarta.

Hadir para ahli dan profesional di bidang perbankan, seperti CEO Frontier Consulting Group Handi Irawan D, Pengamat Ekonomi Aviliani, Ketua Umum Ikatan Bankir Indonesia(IBI) Zukifli Zaini dan Direktur BCA Suwignyo Budiman. Para pakar tersebut membahasa secara mendalam terkait masa depan perbankan ritel nasional yang terus mengalami perkembangan.

Perbankan ritel memiliki karakteristik yang berbeda dengan segmen korporat dimana memiliki pangsa pasar yang jauh lebih luas. Masih besarnya potensi pasar yang belum tergarap membuat perbankan agresif menggarap sektor perbankan ritel dengan didorong aliansi digitalisasi dan teknologi informasi (TI) untuk bisa terus berkompetisi.

Langkah agresif perbankan menggarap sektor ritel ini tentunya sedikit terhambat oleh kebijakan pengetatan BI rate. Langkah pengetatan BI rate sendiri dilatar belakangi oleh  kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang memicu inflasi mencapai 8,38%, nilai tukar rupiah melemah hingga menyentuh US$ 12.138 per Desember 2013, dan terjadinya capital outflow sebagai dampak adanya isu kebijakan tapering The FED.

Dampaknya terjadi penurunan penyaluran untuk produk di sektor perbankan ritel seperti kredit pembiayaan akibat tingginya tingkat suku bunga. Namun, efek negatif tersebut diiringi dengan optimisme dengan semakin berkembangan teknologi Information and Communications Technology(ICT) sehingga mampu meningkatkan pangsa pasar untuk produk ritel perbankan.

Penerapan teknologi ICT akan mampu meningkatkan efisiensi dengan menekan beban pengeluaran perusahaan untuk menghadapi tantangan pasar yang semakin ketat. Dalam menghadapi persaingan dan tantangan pasar diperlukan inovasi khususnya melalui sektor teknologi ICT.

Penerapan inovasi teknologi di sektor perbankan ritel dapat mendorong pertumbuhan ditengah kebijakan moneter yang condong memperketat laju ekspansi pasar. Seperti diketahui kemunculan internet dan sosial media memberikan kontrol serta pilihan bagi pelanggan untuk mengakses informasi produk perbankan.

Pada 10 tahun lalu angka transaksi sebesar 50%-60% masih melalui kantor cabang sebuah bank, namun pada saat ini 95% transaksi melalui fasilitas e-channel, ATM, dan Call Centre. Penggunaan mobile payments sebagai alat pembayaran dalam kegiatan sehari-hari juga menciptakan pengurangan pemanfaatan kartu dan uang tunai dalam melakukan transaksi.

Pertumbuhan perbankan ritel juga didukung dengan data bahwa jumlah pengguna internet banking di Indonesia pada tahun 2013 mencapai 5,7 juta pengguna. Angka tersebut naik sekitar 1.244% dari jumlah pengguna pada tahun 2004 yang hanya 424 ribu orang.

Angka nilai transaksi internet banking di Indonesia juga turut mengalami peningkatan menjadi sebesar Rp 4.789 triliun pada 2013 naik signifikan dari catatan tahun 2014 yang sebesar Rp 35,5 triliun.

Peluang perbankan dalam memanfaatkan pasar ritel yang cukup besar perlu difasilitasi dengan solusi bisnis ICT yang tepat. Persaingan pasar yang tentunya semakin ketat ditengah porsi “kue” pangsa pasar yang masih terbuka lebar perlu dihadapi dengan persiapan dan strategi yang matang.

PT Aplikanusa Lintasarta sebagai perusahaan ICT telah memiliki pengalaman lebih dari 26 tahun khususnya dalam melayani dan bekerjasama dengan para pemain di sektor perbankan. Lintasarta menawarkan sebuah solusi atas sistem yang terintegrasi dengan tingkat keamanan serta pengawasan tinggi terhadap arus komunikasi data dan transaksi antar cabang.

Solusi tersebut hadir dalam bentuk layanan konektifitas yang handal serta layanan yang bernilai tambah untuk menunjang aktifitas transaksi perbankan di sektor ritel. Ekspansi perbankan untuk menggarap pasar sektor ritel yang cukup luas dengan terus berinovasi akan terlayani dengan baik oleh solusi bisnis dari Lintasarta.

Solusi bisnis yang tepat bagi pasar perbankan ritel salah satunya adalah Lintasarta Managed WAN Optimizer yang merupakan layanan untuk meningkatkan efektifitas dari trafik aplikasi dan proses transfer data. Melalui Lintasarta Managed WAN Optimizer maka proses transaksi keuangan yang dilakukan pelanggan maupun kantor cabang di daerah terpencil sekalipun dapat terlayani dengan baik.

Layanan managed WAN Optimizer juga dapat bekerja secara maksimal di jaringan media akses Very Small Aperture Terminal (VSAT), yang memang ditujukan untuk menunjang aktifitas perusahaan di wilayah terpencil. Pada akhirnya, melalui solusi bisnis yang tepat akan semakin mendorong pertumbuhan di sektor perbankan ritel dan meningkatkan akses masyarakat terhadap fasilitas atau layanan perbankan.