lintasarta

October 27, 2021

Inilah Peran SD-WAN dalam Digitalisasi Industri Kesehatan

Lembaga kesehatan dunia, WHO, telah mempromosikan kesehatan digital sebagai cara untuk mewujudkan layanan kesehatan yang lebih merata dan terjangkau. Namun, adopsi teknologi digital ini juga harus didukung dengan prasarana andal. Jaringan WAN tradisional belum tentu mampu mendukung digitalisasi industri kesehatan. Sementara, SD-WAN (software defined wide area network) dapat membantu rumah sakit/fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) mengadopsi berbagai solusi digital terkini.



Hadirnya pandemi telah memaksa rumah sakit atau fasyankes untuk mencari cara alternatif agar dapat melayani lebih banyak pasien, meskipun tidak bertatap muka. Sebelumnya, semakin populer berbagai skema asuransi (termasuk JKN) telah membuka akses layanan kesehatan kepada lebih banyak pasien. Semakin banyak rumah sakit yang mengadopsi sistem informasi rumah sakit (SIMRS) agar manajemen dan pelayanan dapat diselenggarakan dengan lebih efisien.



Potensi inovasi digital pada industri kesehatan ini tidak hanya terbatas pada Telemedicine atau sistem informasi saja. Whitepaper PERSI (Persatuan Rumah Sakit Indonesia) misalnya, mengidentifikasi teknologi digital lain, seperti Cloud Computing (komputasi awan), Big Data Analytics, Virtual Reality (VR)/Augmented Reality, wearable (perangkat sandangan) dan Artificial Intelligence, serta Blockchain sebagai beberapa teknologi lain yang dapat membantu rumah sakit untuk dapat meningkatkan pelayanannya. Dan, sebagian besar inovasi ini akan berjalan lebih baik dengan prasarana jaringan yang menggunakan teknologi SD-WAN.



Baca Juga: Apa Itu SD-WAN dan bagaimana perkembangannya?



Inovasi digital



Telemedicine



Telemedicine (telemedis) saat ini sudah semakin banyak dikenal masyarakat. Banyak pasien yang sudah menggunakan aplikasi Telemedicine untuk konsultasi dengan dokter tanpa tatap muka. Telemedicine sendiri, kini telah diatur oleh serangkaian regulasi dari Kemenkes, sejak diterbitkannya Permenkes No 20/2019.



Potensi Telemedicine pun tidak hanya terbatas pada telekonsultasi, tetapi juga pada jenis layanan lain seperti Tele-USG, Tele-EKG, dan tele-Radiologi.



Perangkat sandangan (wearable) dapat membantu penyedia layanan Telemedicine. Wearable adalah perangkat yang dapat dikenakan pasien seperti layaknya pakaian atau aksesoris, misalnya kalung atau arloji.



Virtual Reality/Augmented Reality



Teknologi realitas virtual (Virtual Reality) dan realitas tertambah (Augmented Reality) juga sudah mulai dijajaki untuk diterapkan di lingkungan rumah sakit. Teknologi realitas tertambah antara lain dapat digunakan untuk layanan telemedicine yang lebih efektif. Sebagai contoh, konsultasi dengan dokter sejawat bisa dilakukan dengan konferensi video biasa, namun teknologi realitas tertambah dapat menyertakan fitur seperti anotasi dan informasi tambahan.



Selain itu, teknologi realitas virtual juga sudah digunakan oleh dokter/residen untuk berlatih dan mempertajam keterampilannya dalam ilmu bedah, tanpa harus mengoperasi pasien secara langsung.



Baca Juga: Dua Hal Penting yang Berdampak Pada SD-WAN di 2021



Big Data Analytics



Big Data Analytics dapat digunakan untuk berbagai keperluan dalam bidang medis, termasuk untuk layanan rumah sakit. Umumnya, rumah sakit menyimpan rekam medis elektronik. Digabungkan dengan jenis data lain, seperti data biomedis, data eksperimen, dan bahkan data media sosial, rumah sakit bisa mendapatkan wawasan untuk meningkatkan pelayanan terhadap pasien. Sehingga, pasien bisa mendapatkan pengobatan prediktif dan sudah disesuaikan dengan keadaan khususnya.



Secara umum, Big Data Analytics dapat membantu memperkirakan dan memantau pola penyebaran penyakit. Dengan demikian, fasyankes bisa mengantisipasi dan mempersiapkan diri untuk menangani penyakit menular tertentu.



Artificial Intelligence



Kecerdasan buatan (Artificial Intellegence atau AI) serta pembelajaran mesin (Machine Learning atau ML) sudah mulai dijajaki untuk digunakan dalam bidang medis. Sebagai contoh, teknik ML sudah digunakan untuk mendeteksi kanker payudara dengan akurasi yang mendekati radiolog profesional. Hal ini bisa membantu fasyankes yang kekurangan tenaga kesehatan ahli untuk melakukan diagnosis.



Penggunaan AI mungkin menuntut sumber daya komputasi yang unggul. Namun, saat ini rumah sakit dan organisasi lainnya bisa memanfaatkan komputasi awan (Cloud Computing) untuk mempermudah akses ke teknologi AI.



Blockchain



Blockchain awalnya lebih dikenal sebagai teknologi yang dimanfaatkan oleh mata uang kripto (Cryptocurrency). Tetapi, sebenarnya Blockchain berpotensi untuk digunakan dalam meningkatkan pengelolaan rekam medis secara elektronik.



Penggunaan Blockchain dapat mengatasi beberapa masalah yang ditemukan dalam pengelolaan rekam medis elektronik. Misalnya, Blockchain memungkinkan berbagi data pasien tanpa mengorbankan privasi. Penjagaan keamanan dan integritas data pasien juga lebih mudah dilakukan.



Peran SD-WAN



Agar dapat memanfaatkan berbagai inovasi digital yang sudah dibahas di atas secara maksimal, rumah sakit membutuhkan prasarana jaringan modern. Jaringan ini haruslah berkualitas tinggi, mudah dikelola, dan mudah diamankan. Untuk memperoleh jaringan seperti ini, rumah sakit dapat memanfaatkan teknologi SD-WAN.



Sebagai contoh, rumah sakit yang memanfaatkan teknologi telekonsultasi, AR/VR, serta pemantauan kesehatan dari jarak jauh membutuhkan konektivitas yang stabil dan berkualitas tinggi selama 24 jam dalam seminggu.



Di banyak tempat, fasyankes mungkin hanya dapat mengakses layanan Internet Broadband komersial dan seluler (LTE). Untungnya, fasyankes bisa mendapatkan jaringan yang lebih baik dengan menggunakan teknologi SD-WAN. Fitur seperti load balancer, active-active WAN dan dynamic multipath optimization yang didapatkan dari teknologi SD-WAN menjamin ketersediaan dan kualitas jaringan fasyankes.



Baca Juga: Mempersiapkan Perusahaan untuk Konektivitas Teknologi 5G dengan SD-WAN



Kini, semakin banyak rumah sakit yang memanfaatkan Cloud Computing dalam proses digitalisasi. Untuk keperluan sehari-hari, rumah sakit bisa menggunakan layanan SaaS (Software as a Service) untuk sistem informasi rumah sakit (SIMRS). Selain itu, rumah sakit juga bisa memanfaatkan layanan IaaS untuk teknologi terkini seperti AI/ML, Big Data Analytics, dan Blockchain.



Jaringan WAN tradisional tidak selalu cocok untuk digunakan dengan komputasi awan, terutama bila sebelumnya jaringan tersebut dirancang untuk optimasi akses sumber daya dalam jaringan internal. Lalu lintas data mungkin harus memutar terlebih dahulu sebelum mengakses server di luar jaringan. Dengan SD-WAN, pengguna layanan SaaS dan komputasi awan lainnya dapat langsung mengakses server penyedia Cloud.



Aspek keamanan juga tidak kalah pentingnya bagi rumah sakit yang ingin melakukan digitalisasi. Sektor kesehatan merupakan salah satu sektor yang paling sering diincar oleh peretas. Karena itu, infrastruktur jaringan rumah sakit haruslah mudah diamankan.



Koneksi data yang menggunakan jaringan SD-WAN lebih aman karena sudah terenkripsi oleh IPSec tunneling. Fitur mikrosegmentasi dan kemudahan pengelolaan jaringan merupakan faktor tambah buat pengelola sistem IT rumah sakit dalam memantau dan membuat kebijakan keamanan jaringan. Fitur keamanan yang lebih baik dapat diperoleh dengan layanan tambahan, yaitu Unified Threat Management (UTM).



Lintasarta menyediakan layanan Managed SD-WAN untuk mempermudah rumah sakit merangkul tren digitalisasi, dan menciptakan smart hospital. Untuk mengetahui lebih lanjut keunggulan layanan Managed SD-WAN dari Lintasarta, silakan hubungi kami.