free page hit counter

Bagaimana Uptime Institute Memberikan Sertifikasi pada Data Center?

Seiring semakin pentingnya cloud untuk kebutuhan bisnis lebih lanjut, keberadaan data center atau pusat data juga menjadi cukup penting. Untuk mengamankan data mereka, maka harus memiliki pusat data atau menyerahkan hal tersebut kepada vendor tertentu. Saat akan memilih vendor untuk mempercayakan pusat data Anda, Anda harus mengetahui terlebih dahulu kualitas pusat data yang akan Anda pakai.

Salah satunya dengan mencari tahu sertifikasi apa yang dimiliki oleh vendor tersebut. Pada umumnya, sebuah vendor penyedia layanan pusat data harus memiliki sertifikasi untuk kualitas pusat data mereka. Sertifikasi ini didapatkan dari Uptime Institute. Bagi Anda yang belum tahu apa itu Uptime Institute, ini merupakan organisasi asal Amerika yang berfokus untuk memberikan penilaian terhadap infrastruktur untuk meningkatkan efisiensi maupun inovasi. Sejauh ini ada banyak perusahaan yang sudah bekerja sama dengan Uptime Institute seperti Huawei, Bell, Fujitsu, maupun Fortrust.

Dalam memberikan sertifikasi penilaian terhadap vendor tertentu, Uptime Institute mengklasifikasikan penilaian mereka ke dalam empat macam tingkatan. Tingkatan ini menunjukkan kualitas suat layanan pusat data. Sejauh ini ada empat macam tingkatan atau yang populer disebut sebagai Tier dalam menyebut masing-masing kategori tingkatan. Berikut bagaimana Uptime Institute memberikan evaluasi untuk tiap-tiap sertifikasi Tier.

Tier 1

Tier ini merupakan tier yang paling rendah dan pada umumnya hanya digunakan oleh bisnis dalam skala kecil. Syarat untuk mendapatkan sertifikasi tier 1 tidak sulit karena boleh dibilang, tier 1 ini merupakan dasarnya. Jadi pada umumnya, layanan data center yang berada di tier 1 ini sudah memiliki infrastruktur dasar. Namun kelemahannya, belum memiliki sistem redundan. Hanya memiliki single path to power untuk ketersediaan data 99,671 persen. Tier 1 rata-rata memiliki waktu 28,8 jam waktu downtime dalam satu tahun.

Tier 2

Tingkatan selanjutnya yakni tier 2. Dibanding tier 1, tingkatan ini sudah memiliki sistem redundan walaupun hanya sebagian saja, yakni untuk power dan sistem pendingin. Selain itu, ketersediaannya juga lebih tinggi daripada tier 1, yakni 99,741 persen. Dengan infrastruktur yang sudah dilengkapi dengan sebagian sistem redundan, tier 2 hanay memiliki waktu downtime sebanyak 22 jam saja setiap tahunnya.

Tier 3

Lebih lanjut, ada tier 3. Ketersediaan datanya jauh lebih besar daripada tier 2, yakni 99,982 persen. Selain itu, pusat data pada tingkatan ini sudah memiliki infrastruktur yang lebih matang. Bahkan, waktu downtime nya tidak lebih dari 1,6 jam setiap tahunnya. Hal ini disebabkan karena pusat data di tingkat ini sudah memiliki sistem dual power.

Tier 4

Tingkatan ini merupakan yang paling tinggi dalam sejarah sertifikasi Uptime Institute. Pusat data yang berada di tingkatan ini memiliki semua spesifikasi tier 1 hingga tier 3 ditambah dengan ketersediaan data hingga 99,995 persen. Selain itu, waktu donwtime yang dimilikinya hanya dalam hitungan menit, yakni sekitar 26,3 menit saja.

Sekarang Anda sudah tahu tingkatan kualitas pada masing-masing tier. Semakin tinggi tier maka semakin baik pula kualitas suat layanan pusat data. Sebaliknya, jika sertifikasi yang dimiliki suatu pusat data hanya seputar tier 1 atau 2, maka Anda perlu berpikir ulang sebelum memanfaatkannya. Anda bisa menanyakannya secara langsung pada vendor tersebut sertifikasi apa yang sudah didapatkannya sehingga Anda tidak salah pilih. Jadi, sudah tahu layanan mana yang akan Anda percayakan untuk pusat data Anda?

Photo credit: commons.wikimedia.org