lintasarta-blog

April 15, 2014

Kue Raksasa Bernama E-Commerce

E-Commerce diyakini akan meledak di Indonesia pada beberapa tahun mendatang. Pertumbuhannya terus menunjukkan tren positif, meski banyak tantangan yang harus diatasi jika ingin ledakan itu memberikan dampak signifikan pada perekonomian kita.

Kondisi perekonomian global sedang dalam situasi yang kurang baik. Pemulihan perekonomian Amerika Serikat akibat subrime mortgage berjalan lambat, sementara Eropa masih berkutat dengan krisis euronya. Asia kini menjadi wilayah yang menopang dunia, berkat pertumbuhan ekonomi positif oleh China, Indonesia dan India.

Kondisi perekonomian Indonesia yang positif ini – meski Bank Indonesia (BI) melakukan sedikit koreksi pertumbuhan ekonomi tahun ini, dari 6,3-6,8 menjadi 6,2-6,6 – salah satunya ditopang oleh pertumbuhan E-Commerce yang positif. Tren positif pertumbuhan E-Commerce ini disampaikan oleh Deputi Gubernur BI Ronald Waas dalam Seminar “Mendorong Ledakan E-Commerce 2015” dalam rangka memperingati ulang tahun Lintasarta yang ke-25. “Indikasi besarnya potensi E-Commerce itu bisa dilihat dari adanya kerja sama antara salah satu bank besar Indonesia dengan sebuah merchant besar yang baru saja dilakukan,” katanya.

Menyisir data dari Boston Consulting Group, Ronald menyebutkan, besarnya potensi E-Commerce Indonesia bisa dilihat dari besarnya pengguna internet dan pertumbuhannya di Indonesia. Pada 2012, pengguna internet di Indonesia mencapai 62,9 juta jiwa. Dari jumlah itu, yang mengakses internet lebih dari tiga jam sehari tercatat 24,2 juta jiwa. Bahkan pertumbuhan internet dan penggunanya, sebut Ronald, lebih besar dan cepat dari pada pertumbuhan perbankan dan nasabah bank. Padahal perbankan Indonesia sudah ada sejak zaman kolonial Hindia Belanda, sementara internet baru sekitar dua dasawarsa terakhir. Itu semua menujukkan besarnya potensi pasar E-Commerce di Indonesia.

Nilai E-Commerce juga terus menunjukkan peningkatan. Pada tahun 2011, nilai E-Commerce mencapai USD266 juta atau sekitar Rp2,5 triliun. Angka itu meningkat hampir 80% di tahun 2012. Nilai E-Commerce melonjak menjadi USD478 juta atau setara Rp4,5 triliun. Angka ini hanya berasal jumlah kecil pengguna internet kita, yaitu sekitar 6%. “Masih ada sekitar 94% lagi yang belum tergarap secara optimal. Bisa dibayangkan besarnya potensi E-Commerce itu,” sebutnya.

Ronald mengungkapkan, pertumbuhan E-Commerce memang terasa sekali dalam lima tahun terakhir. Pada 1996, hanya ada beberapa perusahaan yang membuka website sekadar untuk promosi, bukan berjualan. Pada tahun 2005, terjadi lonjakan meski tidak besar. Setelah munculnya media sosial seperti Facebook dan Twitter, jumlah perusahaan dan orang yang menggunakan internet mengalami lonjakan drastis.

Ronald menyayangkan tidak adanya pusat informasi dan data milik Indonesia yang bisa menunjukkan secara jelas apa yang terjadi dengan transaksi online atau E-Commerce. Padahal, data ini penting sebagai sarana untuk melihat apa yang terjadi, sekaligus menjadi panduan langkah-langkah apa yang harus diambil ke depan terkait E-Commerce.

Catatan penting yang diberikan oleh Ronald adalah, meski terus menujukkan tren positif, sebenarnya kontribusi internet atau E-Commerce terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) alias seluruh nilai barang/jasa yang dihasilkan oleh semua unit ekonomi, masihlah sangat kecil. Pada 2010, kontribusi mereka hanya 1,5% dari PDB atau sekitar Rp166 triliun, dan pada tahun 2016, kontribusi itu hanya diperkirakan naik menjadi 2%. “Saya harapkan, ini bisa kita dorong lebih besar, agar ledakan E-Commerce itu bisa terjadi, tidak mudah memang, banyak hal yang harus diberi perhatian,” tuturnya.

Ronald memberikan beberapa hal yang patut diperhatikan untuk mendorong pertumbuhan E-Commerce. Dia menyebut bahwa melalui internet, perusahaan atau individu, akan lebih mudah dan murah untuk melakukan promosi atau menjual produknya. Jika pendekatan ini bisa diterapkan pada UMKM, maka tidak hanya UMKM yang tumbuh, tapi juga E-Commerce.

Lalu ada baiknya bagi dunia usaha, terutama perbankan, untuk melakukan kerja sama yang lebih baik dengan duna telekomunikasi. Mulai untuk memikirkan bagaimana membuat seluruh pengguna seluler sebagai potensial customer. Data menyebutkan para pengguna seluler tidak hanya menggunakan telepon genggamnya untuk berkomunikasi, tetapi juga mengakses internet. Kemudian ada persoalan keamanan yang harus diperhatikan dalam E-Commerce. Kepercayaan terhadap E-Commerce akan meningkat jika ditopang dengan keseluruhan sistem yang aman. Dan terakhir adalah perlindungan konsumen. Konsumen ini bukan hanya pembeli baru, tetapi berjenjang.

BI, papar Ronald, memilki tugas dan peran penting terkait hal itu semua. BI harus mampu mendorong terjadinya security, integration dan availability dalam penggunaan teknologi informasi dan semua pemangku kepentingan (stakeholder) yang terkait dalam E-Commerce.

BI juga memilki tugas untuk melakukan pengawasan, terutama dalam sistem pembayaran E-Commerce. Ronald menyebut, dengan adanya Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tidak menghilangkan tugas BI, tetapi malah menegaskan perannya dalam melakukan pengawasan sistem pembayaran. Terlebih ke depan, pelaku E-Commerce dan sistem pembayaran tidak hanya perbankan, tetapi juga institusi lain.

Jika semua ini dilakukan dengan baik dan didukung oleh semua yang terlibat dalam E-Commerce, Ronald yakin ledakan E-Commerce dapat terjadi. Dan yang lebih utama, besarnya potensi pasar E-Commerce dalam negeri berhasil dioptimalkan oleh pelaku usaha dalam negeri, bukan pelaku usaha asing.