Merancang Strategi untuk Memulai Otomasi Layanan IT

Banyak organisasi bergulat dengan tantangan untuk membangun infrastruktur IT yang modern, karena tantangan biaya dan kompleksitas pengelolaan sistem yang sudah ada. Selain itu, perusahaan juga didorong untuk terus berinovasi karena tuntutan kompetisi yang semakin ketat dalam penggunaan layanan IT.



Baca Juga: Bagaimana Otomasi dapat Membantu Pengelolaan Infrastruktur IT?



Tantangan ini menambah beban terhadap staf IT yang jumlahnya terbatas, dan belum tentu memadai untuk menangani pertumbuhan infrastruktur. Untuk mengatasi masalah meningkatnya kompleksitas infrastruktur IT, semakin banyak perusahaan yang mempertimbangkan otomasi. Data dari perusahaan riset Gartner menunjukkan bahwa 70% perusahaan global akan mengadopsi otomasi IT pada 2025 mendatang.



Otomasi IT menggunakan perangkat lunak (skrip, Robotic Process Automation, dan peralatan lainnya) untuk mengurangi biaya, kompleksitas, dan kesalahan. Dengan otomasi IT, tugas profesional IT yang sebelumnya dilakukan secara manual dilakukan oleh perangkat lunak. Tugas-tugas yang digantikan ini berkisar dari tugas tunggal, sekelompok tugas, sampai rangkaian tugas yang lebih kompleks.



Baca Juga: Pentingnya Proses Sertifikasi IT untuk Perusahaan



Salah satu manfaat otomasi layanan IT ini adalah optimasi biaya, namun masih ada berbagai manfaat lainnya yang bisa diperoleh. Otomasi sistem dapat meningkatkan produktivitas dan kinerja staf, meningkatkan keandalan sistem IT, dan memberikan konsistensi dalam layanan IT. Staf yang ada dapat memiliki banyak waktu untuk proyek yang lebih strategis dan inovatif, dan tidak terjebak dalam tugas yang menjemukan.



Langkah Otomasi yang Disarankan untuk Layanan IT



Meskipun otomasi layanan IT berpotensi bermanfaat besar untuk perusahaan, implementasi tanpa perencanaan dan strategi yang matang bisa berakibat kegagalan. Berikut langkah-langkah yang disarankan agar otomasi IT bisa berjalan sukses.




  1. Identifikasi sasaran otomasi: Secara umum, tugas yang bisa diotomasi adalah tugas yang biasa dan sering dilakukan. Tugas yang menghabiskan waktu bisa menjadi prioritas.

  2. Evaluasi aliran kerja (workflow) yang dapat diterjemahkan ke dalam otomasi proses: Organisasi sering mengalami kesulitan dalam hal ini. Anda mungkin juga harus mengubah workflow yang ada agar lebih sesuai untuk otomasi.

  3. Pertimbangkan kesulitan tugas dan kondisi pengecualian: Secara umum, proses yang memiliki kondisi pengecualian lebih sulit diotomasi. Staf IT mungkin akan memutuskan untuk mengotomasi sebagian dari proses, dan menyerahkan penanganan pengecualian di tangan manusia.

  4. Seleksi alat-alat otomasi: Terdapat berbagai kerangka kerja dan produk otomasi yang bisa dipilih, baik yang harus dipasang on-premise ataupun yang berupa perangkat lunak SaaS (Software as a Service).

  5. Mulai dari hal yang paling mudah: Penanggung jawab proses otomasi bisa memulai implementasi pada tugas-tugas yang paling mudah namun menyita waktu. Ada baiknya tahap awal ini diperlakukan sebagai proyek proof–of-concept.

  6. Pantau hasilnya: Tim IT yang mengimplementasikan otomasi harus menentukan metrik atau ukuran yang dapat mengukur dampak otomasi terhadap bisnis. Pemantauan juga diperlukan untuk mengidentifikasi hambatan yang mungkin ditemukan.

  7. Ekspansi: Setelah mendapatkan hasil pengukuran dan pemantauan terhadap tahap awal otomasi, langkah berikutnya adalah ekspansi otomasi ke tugas-tugas lainnya. Pada tahap berikut ini, tim IT bisa memfokuskan perhatian pada tugas-tugas yang lebih kompleks.

  8. Pemeliharaan: Proses tinjauan (review) dan pembaruan (update) harus dilakukan secara berkala terhadap tugas-tugas yang diotomasi. Bisa jadi otomasi yang dilakukan tidak lagi memenuhi kebutuhan bisnis atau, dan perlu perubahan.



Layanan Lintasarta



Untuk mengatasi tantangan dalam pengelolaan infrastruktur, bagian IT bisa memanfaatkan layanan Managed Service for IT Operation (MS ITO). Dengan layanan Managed Service ini, perusahaan mendelegasikan sebagian atau keseluruhan operasi IT ke penyedia jasa pihak ketiga yang sudah berpengalaman.



Lintasarta menawarkan layanan Managed Service untuk Operasi IT yang menerapkan praktik terbaik (best practice) dalam operasi IT, termasuk penerapan otomasi dalam pengelolaan infrastruktur. Dengan pengalaman lebih dari 30 tahun dalam dunia teknologi informasi, layanan Managed Service dari Lintasarta dapat membantu perusahaan menentukan dan menerapkan strategi terbaik dalam menerapkan best practice dalam operasi IT, termasuk otomasi infrastruktur IT.



Baca Juga: Mencapai Keunggulan Operasional dengan Managed Service IT Operation



Lintasarta Managed Service tidak hanya memprioritaskan otomasi, tetapi juga berkomitmen untuk kepatuhan terhadap standar internasional (seperti ISO 20000-1, ISO 27001, ISO 9001, dan lain-lain). Dengan dukungan 54 kantor cabang di seluruh Indonesia, layanan ini dapat dijangkau oleh semua organisasi di tanah air yang ingin meningkatkan kualitas layanan IT-nya. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Lintasarta Managed service for IT Operations, silakan hubungi kami.