lintasarta

August 25, 2021

Kota Pintar yang Berkelanjutan untuk Kesejahteraan Masyarakat Indonesia

Konsep Kota Pintar atau Smart City sudah tidak baru lagi di Indonesia. Sejak 2017, pemerintah Indonesia telah mencanangkan Gerakan 100 Smart City dengan tujuan agar kabupaten dan kota dapat memaksimalkan potensi daerah dan meningkatkan pelayanan masyarakat dengan memanfaatkan teknologi.



Kota Pintar adalah sistem yang digunakan oleh pemerintah kota untuk mengumpulkan data yang memanfaatkan berbagai jenis sensor Internet of Things (IoT). Data tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai wawasan untuk mengambil sebuah keputusan terkait kebijakan kota. Dengan mengintegrasikan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan berbagai perangkat IoT, operasi dan layanan kota dapat semakin efektif, terhubung dengan warga kota, memantau infrastruktur fasilitas kota, hingga mengawasi peristiwa yang terjadi secara real-time.



Baca juga: Apa Manfaat Smart City bagi Masyarakat dan Pemerintah?



Sebuah kabupaten atau kota dapat disebut dengan Kabupaten/Kota Pintar apabila sudah dilengkapi dengan infrastruktur dasar, sistem transportasi yang lebih efisien, dan data antar lembaga sudah terintegrasi. Dengan demikian, Kota Pintar dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya.



Kota pintar sudah diaplikasikan di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Surabaya dan Semarang. Lalu bagaimana hasil dari penerapan Kota Pintar di dua kota besar ini dan apa tantangannya? Berikut penjelasannya.





Penerapan Kota Pintar Semarang



Kota Pintar di Semarang sudah dilakukan sejak 2013, empat tahun lebih dulu sebelum Gerakan 100 Smart City dimaklumatkan pemerintah pusat Indonesia. Setelah lebih dari delapan tahun, kini Semarang sudah memiliki 2.300 WiFi gratis untuk publik dan terdapat 10.200 titik lokasi CCTV yang dilengkapi dengan analytics software.



Baca juga: 4 Kota di Indonesia yang Sudah Terapkan Konsep Smart City



Dr. Bambang Pramusinto, S.H., S.I.P., M.Si., Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Statisik dan Persandian Kota Semarang, mengatakan Kota Pintar di Semarang sudah diimplementasikan berdasarkan peraturan dari Kemenkominfo termasuk 6 dimensi seperti Smart Government, Smart Branding, Smart Living, Smart Economy, Smart Society, dan Smart Environment. Tidak hanya itu, Kota Pintar di Semarang juga sudah diterapkan sesuai dengan indikator standar SNI ISO 37122:2019 Perkotaan dan Masyarakat Berkelanjutan.



Meskipun sudah bertahun-tahun diimplementasikan, Bambang berpesan agar Organisasi Perangkat Daerah (OPD) tetap dapat mengembangkan potensi-potensi lain, mengingat teknologi akan terus berkembang pesat. Kolaborasi dengan vendor dan stakeholder akan terus dilakukan untuk membangun Kota Semarang yang pintar, tidak dari sisi TIK saja, tapi juga non-TIK. Dengan program Kampung Tematik, pemerintah dapat membantu meningkatkan potensi UKM di desa-desa tertinggal dengan melakukan pelatihan agar berkembang menjadi objek wisata, tidak hanya jualan hasil produk UKM.



Kota Pintar versi Surabaya



Kota Surabaya juga telah memantapkan pengembangan Kota Pintar dengan menyediakan beberapa teknologi ciamik seperti pemasangan lebih dari 1.900 WiFi untuk masyarakat secara gratis, 1.200 lebih CCTV, Surabaya Intelligent Transport System (SITS), Geographic Information System (GIS), Command Center, dan layanan panggilan darurat 112.



10 tahun Surabaya mulai mengawali pembangunan Kota Pintar, dimulai sejak Tri Rismaharini menjabat sebagai Walikota Surabaya. Pembangunan yang tidak luput dari campur tangan masyarakat, Surabaya akan menjadi kota yang komprehensif dari hulu ke hilir. “Membangun sebuah Kota Pintar tidak bisa terputus-putus, semua harus menjadi satu mulai dari lingkungan, infrastruktur, dan ekonomi, sehingga menjadi Kota Pintar yang efektif dan efisien. Berintegrasi berfikir dan mengedepankan kesejahteraan masyarakat,” kata Febrina Kusumawati, Plt. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya, pada Kegiatan Webinar SAFE 2021 berjudul “Collaboration for the Future Economy: Smart and Sustainable Cities” (24/08).



Febri juga mengungkapkan bahwa semua layanan akan selalu difokuskan untuk masyarakat, yang tadinya manual menjadi otomatis. Sehingga pelayanan ini lebih cepat dan seluruh aspek dapat diraih dengan waktu yang cepat. Sebagai contoh, pendataan penduduk dapat dilakukan melalui pemasukan data oleh Ketua Rukun Tetangga (RT), sehingga data tersebut akan mudah dan cepat diterima oleh Dinas Sosial.



Baca juga: Peran Teknologi Smart City pada Era Pasca-Pandemi



Muhammad Fikser, Kepala Dinas Kominfo Kota Surabaya, membenarkan bahwa pelayanan masyarakat dengan aplikasi menjadi lebih efektif dan efisien. Contohnya, proses pelacakan warga yang terpapar Covid-19 dapat dengan mudah dilakukan dengan aplikasi Lawan Covid-19, yang mana sudah terintegrasi dengan aplikasi dari Kemenkes, SiLacak. Tidak hanya dari bidang Kesehatan saja, pemerintah juga mengembangkan aplikasi perdangan daring atau e-commerce, E-Peken (Pemberdayaan dan Ketahanan Ekonomi Nang Suroboyo), yaitu aplikasi untuk membantu toko klontong tetap hidup di tengah pandemi. Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemerintah Kota Surabaya sudah diwajibkan untuk berbelanja kebutuhan pribadi dan dinas melalui aplikasi tersebut.



Presiden Republik Indonesia, Joko “Jokowi” Widodo, baru-baru ini meresmikan fasilitas sistem Pengelolaan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo, Kota Surabaya (06/05). Dikutip dari Kompas.com, Jokowi mengatakan, PSEL Benowo akan dijadikan pilot project nasional sehingga daerah lain diminta untuk meniru sistem yang digunakan pada PSEL tersebut. Ini tentunya membuat Surabaya unggul dalam pengembangan konsep Kota Pintar yang Berkelanjutan.



Membangun Kota Pintar yang Berkelanjutan untuk Indonesia



Penerapan Smart City sendiri tak lepas dari tantangan, baik dari sisi infrastruktur, keamanan, maupun sosialisasi. Salah satu infrastruktur yang krusial untuk diterapkan adalah masalah konektivitas yang tentunya akan berkaitan dengan penerapan IoT. Arya Damar, Direktur Utama Lintasarta, menuturkan Kota Pintar memiliki beberapa aspek dalam proses pembangunannya seperti masterplan, infrastruktur, integrasi data, manajemen perubahan, dan sosialisasi. Tentunya ini akan diatur kembali sesuai dengan kebutuhan tiap kabupaten atau kota.



Lintasarta bekerja sama dengan Kominfo dalam pengadaan infrastruktur, seperti satelit dan Base Transceiver Station (BTS) di luar pulau Jawa dan daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Kominfo juga sudah menyiapkan Pusat Data Nasional seperti Cloud. Dari sini, konsep Kota Pintar dapat dimulai dengan lebih canggih lagi.



Baca juga: Seperti Apa Konsep Smart City untuk Ibu Kota Baru?



Arya menambahkan, pandemi telah mendorong penggunaan IT, bukan Direktur IT. Dengan demikian, percepatan transformasi digital akan membantu pembangunan Kota Pintar. Pengembangan Digital Twin juga akan mempermudah otomatisasi dari data untuk mengambil kebijakan dengan pemodelan dari masing-masing kota. “Tetapi jangan takut jika salah input data. Robotic Process Automation (RPA) akan membantu meminimalisir pemasukan data yang salah. Bagaimana tidak, layanan call center saja sudah banyak yang dijawab oleh robot,” kata Arya.



Penggunaan teknologi di lintas lini, termasuk Kota Pintar, akan membuka celah serangan siber. Badan Siber dan Sandi Negara melaporkan bahwa setidaknya telah terjadi 448.491.256 serangan siber di Januari hingga May 2021. Arya melihat tingginya serangan siber di masa pandemi disebabkan oleh penggunaan teknologi dari jarak jauh seperti daring. Dengan demikian, solusi keamanan andal seperti Firewall, Anti-DDoS, Managed Security Operation Center (SOC), dan lain-lain juga diperlukan untuk menjaga data dan aplikasi, serta mencegah serangan-serangan yang merugikan.



Baca juga: Bagaimana smart city menjadikan kota lebih aman di tengah pandemi?



Untuk mengatasi tantangan dan menerapkan Kota Pintar, Lintasarta menawarkan beberapa tahapan penerapan solusi Kota Pintar secara terarah dan optimal. Solusi Kota Pintar milik Lintasarta, atau juga disebut SKOTA by Lintasarta, dapat di-bundling dengan beberapa teknologi lain seperti Security untuk mengamankan data yang dimiliki oleh pemerintah.



SKOTA by Lintasarta juga dapat membantu pemerintah menerapkan daerah yang lebih pintar dan berkelanjutan. Anda bisa menghubungi kami untuk informasi lebih lanjut mengenai SKOTA by Lintasarta atau solusi-solusi lainnya dalam menunjang Kota Pintar yang Berkelanjutan.