lintasarta

May 06, 2021

Teknologi dan Masalah Sistem Transportasi Darat di Indonesia

Moda transportasi darat di Indonesia masih memiliki sejumlah masalah besar. Masalah tersebut sering ditemui dalam keseharian kita, mulai dari kemacetan, buruknya kondisi angkutan umum, tidak layaknya infrastruktur, hingga masih tingginya angka kecelakaan akibat kelalaian pengendara.



Apabila tidak segera diatasi secara serius, berbagai persoalan tersebut akan memiliki implikasi besar, baik dalam bidang perekonomian ataupun sosial. Mengenai kemacetan di DKI Jakarta, misalnya, yang menurut data dari Bank Dunia pada 2019, telah menimbulkan kerugian mencapai Rp65 triliun.



Baca juga: Cegat Hoaks Dunia Maya, Optimalkan Kebijakan Berbasis Data



Tingkat kecelakaan lalu lintas di Indonesia juga masih sangat tinggi. Mengacu terhadap data Korlantas Polri pada September 2020, terdapat total 116.411 kasus kecelakaan. Angka ini meningkat sebesar 7% dari tahun sebelumnya.



Sementara itu, berdasarkan data World Health Organization (WHO) pada 2019, Indonesia berada di peringkat kedelapan di Asia Tenggara sebagai negara yang memiliki tingkat kematian akibat kecelakaan lalu lintas. Pada periode tersebut, tingkat kematian akibat laka lantas di Indonesia mencapai 12,2% dari 100.000 populasi.



Faktor geografis juga menjadi salah satu persoalan bagi moda transporasi darat di Indonesia. Menurut Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Budi Setiyadi, di beberapa daerah tertinggal, terluar, dan terdalam (3T) masih banyak sistem transportasi darat yang belum terintegrasi dengan baik.



Selain itu, tingkat kesadaran masyarakat akan kepatuhan serta penggunaan transportasi darat pun masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari beberapa contoh kasus dari masih banyaknya oknum pengendara yang masih menorobos jalur Transjakarta, misalnya, atau pertikaian antar pengemudi di jalan raya.



Solusi teknologi untuk transportasi darat



Penggunaan teknologi dapat menjadi solusi untuk mengatasi beberapa persoalan dalam moda transportasi darat di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari salah satu contoh yaitu rencana pemerintah menerapkan teknologi Smart City di Ibu Kota Baru yang mengandalkan konektivitas serta aksesibilitas pada transportasi publiknya.



Baca juga: Belajar dari Pandemi: Integrasi Data adalah Kunci



Lintasarta yang memiliki pengalaman lebih dari 30 tahun dalam dunia informasi dan teknologi juga turut menyediakan solusi untuk mendukung pengembangan Smart City. Melalui SKOTA by Lintasarta, pemerintah pusat maupun daerah dapat memiliki end-to-end solution yang akan dibagi ke dalam beberapa tahapan, mulai dari perencanaan, implementasi, hingga sosialisasi ke masyarakat.



Smart City atau SKOTA by Lintasarta juga akan memberikan solusi tersebut secara komplit dengan enam tahapan, meliputi masterplan, infrastruktur IT, jasa integrasi data, aplikasi, pendampingan change management, serta dukungan dari pelayanan para profesional terbaik saat menjalankannya.



Selain itu, Anda juga dapat menggunakan SKOTA Data by Lintasarta, yaitu sebuah platform atau dashboard untuk mengintegrasikan berbagai macam data yang dimiliki oleh berbagai instansi. Dengan dashboard tersebut, pemerintah pusat maupun daerah dapat memantau berbagai aktivitas masyarakat serta transportasi darat di jalan raya yang berasal dari data-data yang dihimpun oleh CCTV.



Baca juga: Memastikan Sukses Vaksinasi Lewat Proses Data Terintegrasi



Sistem pemantauan yang dikembangkan SKOTA Data by Lintasarta ini juga dapat diintegrasikan dengan data-data lainnya, seperti data kependudukan, data fasilitas umum, sehingga memungkinkan bagi pemangku kepentingan untuk mengambil kebijakan secara efektif dan efisien berdasarkan berbagai jenis data yang ditampilkan secara real-time.



Apabila Anda tertarik mengetahui informasi lebih lanjut mengenai SKOTA Data by Lintasarta, silakan hubungi kami.