Inilah Berbagai Inovasi Kartu Kredit

Kartu kredit sudah lama menjadi alat pembayaran nontunai utama. Namun, saat ini alat pembayaran nontunai sudah semakin beragam, dengan hadirnya uang elektronik dan dompet elektronik (e-wallet).



Survei Boku Inc keluaran 2021 menunjukkan bahwa pemakai dompet elektronik di Indonesia pada tahun 2020 lalu mencapai 63,6 juta orang. Menurut Bank Indonesia, nilai transaksinya mencapai Rp 204,9 triliun pada 2020. Ini sudah mulai mendekati nilai transaksi kartu kredit pada periode yang sama, yang mencapai Rp 238,9 triliun.



Jumlah pemakai dompet elektronik ini bisa dibandingkan dengan pemegang kartu kredit. Menurut data Bank Indonesia, angka pemegang kartu kredit pada bulan Agustus 2021 mencapai 17.014.797 orang, tidak banyak berbeda dibandingkan bulan yang sama tahun 2020 (year-on-year) yang mencapai 17.202.860 orang. Dibandingkan awal tahun, jumlah pemilik kartu kredit ini hanya sedikit naik dari bulan Januari yang mencapai 16.836.892 orang.



Baca Juga: Kartu Syariah, Cara Lain Partisipasi Bank dalam Ekonomi Syariah Nasional



Sebelum pandemi, nilai dan volume transaksi sebenarnya mengalami kenaikan mantap dari tahun ke tahun. Namun, transaksi kartu kredit ini turun cukup banyak pada tahun 2020 lalu, dengan nilai yang merosot sampai 30 persen. Meskipun begitu, berbagai bank sudah berharap bahwa bisnis kartu kredit akan membaik dalam waktu dekat.



Meskipun nilai transaksi dompet elektronik masih relatif lebih rendah, industri kartu kredit tentunya tidak bisa tinggal diam. Karena itu penyedia kartu kredit sudah meluncurkan berbagai inovasi yang membuatnya tetap bisa bersaing sebagai alat pembayaran.



Digital Card



Kartu kredit digital (digital credit card) pada dasarnya sama saja dengan kartu kredit biasa. Hanya saja kartu digital tidak memiliki wujud fisik, dan harus dikelola lewat aplikasi ponsel atau perangkat lainnya. Kartu ini lebih cocok digunakan untuk keperluan pembayaran daring.



Karena kartu kredit digital tidak membutuhkan wujud fisik, pemiliknya tidak perlu menunggu kartu dikirimkan. Kartu ini langsung dapat digunakan setelah pengajuannya disetujui oleh bank. Digabungkan dengan proses permohonan yang juga dilakukan secara daring, nasabah bisa mendapatkan layanan yang lebih cepat dan memuaskan.



Kartu Nirsentuh



Kartu kredit nirsentuh (Contactless Credit Card) merupakan inovasi lain yang sudah mulai diperkenalkan penyedia kartu kredit. Dibandingkan kartu kredit magnetik atau EMV, kartu kredit nirsentuh ini jauh lebih mudah digunakan. Pemilik cukup mendekatkan kartu ke terminal untuk melakukan transaksi, tanpa harus memberikan PIN (personal identification number).



Baca Juga: Tantangan Bisnis Kartu Kredit untuk Bank Buku 2 dan 3



Kemudahan kartu kredit nirsentuh ini sebanding dengan uang elektronik serverless yang juga sudah sering ditemukan di Indonesia. Bedanya, pemilik kartu kredit tidak perlu repot mengisi ulang saldo. Di sisi lain,



QR Code



Pembayaran dengan Quick Response Code (QR Code) merupakan inovasi lain yang mulai dirangkul oleh industri kartu kredit. Penyedia kartu kredit terkemuka seperti Master Card dan Visa pada dasarnya sudah memanfaatkan teknologi QR Code. Dukungan terhadap teknologi QR Code memungkinkan pemilik kartu kredit bisa membayar di merchant yang mendukung teknologi ini tapi tidak menerima kartu kredit.



Baca Juga: Kartu Kredit dan Ekosistem Ekonomi Digital



Pada saat ini Bank Indonesia sudah menetapkan standar pembayaran QR code lewat Quick Response Indonesian Standard (QRIS). Meskipun pada awalnya sumber dana pembayaran QRIS adalah dompet digital, Bank Indonesia memungkinkan kartu kredit dan kartu debit juga dapat digunakan dengan QRIS. Aplikasi perbankan yang mendukung dapat mengubah pembayaran dengan pemindaian QR code ini menjadi tagihan kartu kredit. Dengan demikian, nasabah tidak perlu menggunakan aplikasi terpisah hanya untuk membayar dengan QR Code.



Rangkaian inovasi akan membuat kartu kredit semakin bersaing dan nyaman digunakan pemiliknya. Di sisi lain, bank yang ingin menawarkan produk kartu kredit kepada nasabahnya mungkin dihadang berbagai kendala. Kartu kredit membutuhkan investasi awal yang cukup besar. Belum lagi biaya yang dibutuhkan untuk memelihara sistemnya. Bank dapat menekan biaya dengan sistem co-branding, namun dengan sistem ini bank tidak dapat mengakses sepenuhnya data nasabah.



Untuk memecahkan kendala yang mungkin dihadapi dalam menawarkan produk kartu kredit, bank dapat memanfaatkan layanan Lintasarta Third Party Card Management (TPCM). Lintasarta TPCM adalah solusi penyediaan sistem dan penanganan operasional proses bisnis produk kartu kredit.



Layanan Lintasarta TPCM menyediakan Card Software yang telah berstandar PA-DSS (Payment Application Data Security Standard), infrastruktur lengkap (AS400, app servers, connectivity, dan security), dan Business Process Operations. Lintasarta TPCM terhubung secara langsung ke Visa dan MasterCard.



Dengan Lintasarta TPCM, bank akan memiliki produk kartu kredit dengan brand sendiri, dan tetap memiliki data nasabah dengan biaya investasi awal yang lebih ekonomis. Untuk mengetahui bagaimana bank bisa menawarkan produk kartu kredit lewat Lintasarta TPCM, silakan hubungi kami.