free page hit counter

Teknologi AI: Tren Pendorong Transformasi Bisnis Tahun 2020

Teknologi AI

Buat sebagian orang teknologi AI (Artificial Intelligence) atau kecerdasan buatan masih terdengar seperti kisah fiksi ilmiah. Pada kenyataannya, AI telah diterapkan dalam berbagai sektor dan mentransformasi bisnis secara mendalam dan menyeluruh. Gartner dalam laporannya Top 10 Strategic Technology Trends for 2020  meramalkan bahwa pada  AI akan terus menyusup ke semua kategori teknologi yang sudah ada, dan menciptakan kategori baru. Sementara IDC memperkirakan bahwa belanja untuk AI di seluruh dunia akan mencapai USD 79 miliar pada tahun 2022.

Baca juga: Kebutuhan Teknologi yang Harus Dipersiapkan Saat Masuk ke Industri Manufaktur

Istilah AI sendiri sebenarnya adalah  payung untuk berbagai teknik yang belum tentu terkait satu sama lain. Pada saat ini kemajuan AI terutama didorong oleh teknik Machine Learning (ML) atau pembelajaran mesin dan neural network (jaringan saraf tiruan). ML memungkinkan mesin untuk dapat “belajar”, atau meningkatkan performanya dari data yang didapatkan, tanpa harus mengikuti pemrograman eksplisit terlebih dahulu.

Bersama-sama teknologi yang juga sedang berkembang, Internet of Things (IoT), AI telah meningkatkan kemampuan berbagai perangkat yang sebelumnya hanya berfungsi terbatas, dan mendorong berkembangnya arsitektur baru yang lebih fokus kepada perangkat pinggiran (“edge computing”).

Teknik AI seperti ML dan NLP (natural language processing, pengolahan bahasa alamiah) pada tahun 2020 diperkirakan akan mendorong lebih lanjut proses otomasi yang sudah berlangsung dalam perusahaan. Otomasi tidak hanya akan dilakukan terhadap tugas yang selama ini dilakukan manusia, tetapi juga dalam perancangan proses otomasi itu sendiri.

Teknologi AI juga merupakan teknologi kunci yang memungkinkan berbagai jenis perangkat otonom, seperti drone, mobil otonom, dan robot. Perangkat otonom dapat beroperasi dengan intervensi minimal dari manusia (operator). Perangkat otonom bisa digunakan mulai dari bidang transportasi, pertanian, sampai militer.

Adopsi Teknologi AI didorong cloud computing

Adopsi  teknologi AI dan ML oleh perusahaan salah satunya didorong oleh populernya cloud computing. Dengan tersedianya cloud computing, perusahaan dapat mengakses sumber daya komputasi dan data yang dibutuhkan dengan lebih terjangkau, tanpa harus melakukan investasi yang mahal terlebih dahulu.

Survei dari Deloitte pada tahun 2018 menyebutkan, di Amerika Serikat 49 persen perusahaan menggunakan AI berbasis cloud computing. Penyedia layanan cloud computing juga sudah mulai membidik pasar AI ini dengan menawarkan jasa dan alat-alat untuk mempermudah pengembangan sistem kecerdasan buatan,

Penyedia cloud computing  akan menawarkan jasa dan alat-alat untuk untuk para pelanggan yang ingin mengembangkan aplikasi yang memanfaatkan kecerdasan buatan, misalnya untuk tugas prakiraan, klasifikasi data, analytics, dan lain-lain. Layanan ini termasuk menawarkan perangkat keras yang dirancang khusus untuk AI, antarmuka API (application programming interface) untuk membantu pengenalan suara dan analisis teks, peralatan pemodelan machine learning, dan platform pengembangan AI. Gartner memperkirakan bahwa akses terhadap AI dan ML akan lebih terjangkau dan tersedia lebih luas lagi pada tahun 2020.

Langkah-langkah prioritas

Karena teknologi AI sudah relatif terjangkau, perusahaan Anda mungkin ingin mengadopsinya untuk transformasi bisnis. Pada kenyataannya, banyak perusahaan yang menemukan tantangan dalam menerapkan teknologi tersebut. Pricewaterhouse Coopers (PwC) menyarankan perusahaan untuk memusatkan perhatian pada hal-hal mendasar terlebih dahulu,  dan memberi rekomendasi beberapa langkah prioritas.

Baca juga: 5 Teknologi Murah yang Sudah Dapat Diadopsi

Terapkan AI dalam tugas internal perusahaan

Teknologi AI sebaiknya pertama kali diterapkan dalam  otomasi back office, yang pada gilirannya akan meningkatkan produktivitas perusahaan. Sebagai contoh, AI dapat digunakan untuk mengekstrak informasi dari formulir pajak, invoice, dan dokumen lainnya. Survei PwC menyebutkan bahwa banyak perusahaan juga akan menerapkan AI dalam membantu karyawan dalam pengambilan keputusan dan melakukan peramalan/prakiraan, mengotomasi operasi dengan pelanggan, serta mengelola risiko dan ancaman keamanan siber.

Pendidikan dan pelatihan karyawan

Penerapan teknologi AI juga menuntut sumber daya manusia yang lebih cekatan, dengan keterampilan baru. Perusahaan tidak hanya harus menawarkan pelatihan dan pendidikan untuk karyawannya, tetapi juga memberikan kesempatan untuk menerapkan ilmu yang baru dipelajarinya.

PwC juga menyarankan agar spesialis di satu bidang mempelajari keterampilan dasar di bidang lain. Sebagai contoh, data scientist dapat  mempelajari dasar-dasar bisnis dan etika. Ini tidak hanya akan memuluskan kolaborasi dalam tim, tetapi juga dapat membantu para spesialis yang berbeda ini  mengidentifikasi masalah apa saja yang dapat dipecahkan dengan AI.

Operasionalkan AI secara terintegrasi

AI paling berharga ketika ditanamkan dan diintegrasikan ke dalam sistem operasional yang bekerja sepanjang waktu (24/7), termasuk ke dalam keuangan dan pemasaran. Karena itu langkah selanjutnya dalam adopsi AI adalah mengintegrasikannya ke dalam operasi perusahaan secara keseluruhan, dengan meliputi berbagai unit bisnis. Sistem AI dapat diintegrasikan dengan data dari seluruh organisasi, dengan sistem analytics, dan dengan IoT dan sistem lainnya.

Pelajari dimensi etika

Seperti teknologi lainnya penggunaan AI memiliki dimensi etika. Akurasi peramalan menggunakan ML misalnya tergantung pada dataset yang digunakan, dan pengumpulan data ini bisa jadi mengandung bias ras dan kelas ekonomi. Perdebatan tentang risiko teknologi pengenalan wajah (face recognition) membuat perusahaan besar seperti Microsoft untuk memperingatkan penyalahgunaan yang mungkin muncul.

Baca juga: Peran Teknologi Modern untuk Mendukung Objek Wisata Sejarah

Tinjau ulang model bisnis perusahaan

Kecerdasan buatan berpotensi untuk mendisrupsi dan mentransformasi bisnis. Untuk mencapai hal ini, perusahan mungkin harus meninjau ulang model bisnisnya. Perusahaan dapat menciptakan sistem AI yang mendayagunakan pengalaman dan kepakaran di dalam perusahaan, kemudian menciptakan model bisnis baru dengan sistem AI ini sebagai aset utamanya. Anda bisa menghubungi kami di sini untuk menggunakan layanan Lintasarta.